Social Items

Showing posts with label BISNIS. Show all posts
Showing posts with label BISNIS. Show all posts
Denaihati Indonesia,  Jakarta - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang pekan ini tercatat mengalami kenaikan sebesar 1,04 persen ke level 6.315,436 dari 6.250,265.


ekretaris PT BEI, Hani Ahadiyani menuturkan, mengikuti IHSG, nilai kapitalisasi pasar juga mengalami kenaikan sebesar 1,05 persen menjadi Rp7.193,904 triliun dari Rp7.119,319 triliun pada penutupan pekan lalu.
"Untuk rata-rata volume transaksi harian BEI selama sepekan juga mengalami peningkatan sebesar 20,92 persen menjadi 15,236 miliar unit saham dari 12,600 miliar unit saham pada pekan lalu," tuturnya di Jakarta, Sabtu (22/6).
Hani melanjutkan, sepanjang tahun 2019, investor asing mencatatkan beli bersih sebesar Rp58,992 triliun dan investor asing pada hari ini mencatatkan beli bersih sebesar Rp366,55 miliar.
"Sementara untuk rata-rata frekuensi transaksi harian pekan ini mengalami perubahan sebesar 0,83 persen menjadi 470,219 ribu kali transaksi dari 474,176 ribu kali transaksi pada pekan sebelumnya," ucapnya.
Selain itu, Hani menjelaskan, pada pekan ini, data rata-rata perdagangan BEI turut mengalami peningkatan, paling tinggi terjadi pada rata-rata nilai transaksi harian BEI yang mengalami peningkatan sebesar 31,32 persen menjadi Rp11,381 triliun dari Rp8,667 triliun pada pekan sebelumnya.
Sumber: Liputan6

Selama Sepekan, IHSG Meroket 1,04 Persen


Denaihati Indonesia - Standard & Poor’s, S&P 500 merupakan salah satu patokan yang paling banyak digunakan untuk pasar saham AS secara keseluruhan. Dow Jones Industrial Average (DJIA) pada satu waktu pernah menjadi indeks paling terkenal untuk saham AS, tetapi karena DJIA hanya terdiri atas 30 perusahaan, sebagian besar orang setuju bahwa S&P 500 merupakan representasi pasar AS yang lebih baik.

S&P 500 dirancang untuk menjadi indikator terkemuka untuk ekuitas AS dan dimaksudkan untuk mencerminkan karakteristik risiko/keuntungan perusahaan bermodal besar yang terdaftar di Amerika Serikat. Perusahaan yang termasuk dalam indeks dipilih oleh Komite Indeks S&P, tim analis dan ekonom di Standard & Poor's. S&P 500 merupakan indeks bertimbang nilai pasar - masing-masing saham sebanding dengan nilai pasarnya. Bahkan, banyak yang menganggapnya sebagai DEFINISI pasar.

500 perusahaan ini meliputi sekitar 75 persen pasar ekuitas Amerika berdasarkan kapitalisasinya. Mereka terdaftar di salah satu dari banyak bursa saham Amerika seperti NYSE & NASDAQ.

Ada banyak alasan untuk melakukan investasi di Pasar Saham AS. Berikut ini garis besar dari beberapa alasan yang lebih penting:

1. Keuntungan Konsisten Tertinggi dalam sejarah dunia

Selama jangka panjang, menanamkan investasi pada portofolio saham S&P yang terdiversifikasi dengan baik akan menghasilkan rata-rata tahunan geometrik sebesar 9,55% mulai tahun 1928 sampai dengan 2015. Namun demikian, dalam 50 tahun terakhir, perusahaan di S&P 500 memiliki rata-rata keuntungan tahunan yang bahkan lebih tinggi sebesar 9,8%. Tidak ada pasar lain yang pernah mengungguli keuntungan tersebut. Dengan kata lain, Anda tidak perlu menjadi seorang genius dalam hal investasi untuk mendapatkan keuntungan 9,8% atas investasi saham Anda setiap tahun selama 50 tahun terakhir. Yang perlu Anda lakukan adalah membeli sejumlah saham S&P 500 dan menyimpannya.

Inilah yang dilakukan oleh Warren Buffet di sebagian besar waktunya. Karena beliau adalah seorang genius dalam hal investasi; perusahaannya, Berkshire Hathaway telah membeli saham dengan harga terbaik dan beliau membantu perusahaan-perusahaan memaksimalkan potensinya dengan tenaga kerja sebanyak lebih dari 250.000 orang. Oleh karena itu, Berkshire Hathaway memiliki rata-rata pertumbuhan tahunan yang tercatat sebesar 19,7% untuk pemegang sahamnya selama 50 tahun terakhir, sejak tahun 1965!

Data statistik tidak bohong. Fakta tetap fakta. Perusahaan di S&P500 akan terus mengungguli semua perusahaan sesamanya, dari pasar mana pun di dunia.
Keyakinan untuk Melakukan Investasi
Bagaimana dunia bergerak maju

2. Volume Perdagangan Tertinggi

Rata-rata volume perdagangan harian di NYSE dan NASDAQ sekitar 150 miliar dolar AS setiap hari. Sebagai investor, Anda ingin melakukan investasi di pasar yang banyak diperdagangkan sehingga Anda memiliki pilihan untuk membeli dan menjual investasi Anda sesuai dengan harga yang Anda inginkan.
Berdiri kokoh terhadap bahaya pasar yang ada

3. Pasar Modal Dunia

Amerika Serikat adalah negara yang mengelola sebagian besar modal dunia di segala ukuran. Ini adalah pusat yang dominan di dunia untuk investasi modal usaha, terhitung lebih dari 60%. Memiliki jumlah individu dengan kekayaan bersih yang tinggi serta kelompok berpenghasilan menengah. Individu, kelompok, dan pemain institusional ini adalah pembeli utama di pasar ekuitas AS. Secara kolektif, mereka telah menuangkan dana dalam jumlah besar (miliaran hingga triliunan dolar) ke Wall Street yang membentuk tulang punggung pasar Saham AS dan dengan demikian mengisolasi pemain kecil (investor individu) agar tidak terbakar selama masa krisis. Selanjutnya, tidak ada pasar saham lainnya yang pulih lebih cepat daripada Amerika Serikat dalam situasi pasca krisis. Sejarah telah terbukti lagi dan lagi sejak Depresi Besar pada tahun 1920-an.

Uang bukan kekayaan tetapi membantu menciptakan kekayaan

4. Federal Reserve Bank

Federal Reserve Bank adalah organisasi keuangan terkaya dan terkuat di dunia saat ini. Kebijakannya mendikte ekonomi Amerika Serikat dan seluruh dunia hingga batas tertentu. Federal Reserve selalu ramah pasar. Program Pelonggaran Kuantitatif dari tahun 2008 – 2014 membantu perekonomian AS dan pemulihan pasar saham dari Krisis Keuangan tahun 2007/8. Akibatnya, S&P 500 mencapai beberapa puncak selama periode ini, begitu pula dengan kepercayaan para investor.

5. Pasar yang Independen

Pasar saham Amerika Serikat dianggap salah satu yang paling bebas di dunia dalam hal intervensi pemerintah dan tidak terpengaruh oleh perubahan politik dalam negeri seperti pemilihan umum presiden.
Kapasitas Anda untuk bermimpi dan bertindak tidak terbatas

6. Terbuka bagi semuanya

Siapa saja yang berusia di atas 18 tahun di dunia (selain warga negara dari negara yang diembargo AS) benar-benar dapat membeli saham yang terdaftar di bursa saham Amerika melalui perusahaan pialang. Anggota kami berasal dari ratusan negara dan mampu berdagang di pasar yang sama tanpa batasan merupakan faktor plus yang sangat besar bagi Financial.org untuk fokus di pasar saham AS.

7. Diregulasi dengan Baik

Terdapat lebih dari 30 Bursa Stock & Elektronik di Amerika Serikat. Semua ini termasuk NYSE & NASDAQ dianggap sebagai salah satu pasar yang paling transparan dan diregulasi secara ketat. Berada di puncak kerangka kerja peraturan ini yaitu Securities and Exchange Commission (SEC) Amerika Serikat yang bertindak sebagai badan pengawas yang luas, yang terdiri atas beberapa divisi untuk memastikan berlangsungnya pasar yang wajar dan efisien. Undang-undang Keuangan & Keamanan di Amerika Serikat merupakan salah satu yang paling mutakhir dan komprehensif di dunia saat ini. Bahkan banyak dari lembaga keuangan terbesar di dunia; Deutsche Bank, Bank of America, JP Morgan Chase, Goldman Sachs, Citigroup dan HSBC semuanya telah didenda miliaran dolar oleh SEC dalam beberapa tahun terakhir karena telah melanggar undang-undang. Jangan ada yang macam-macam dengan SEC! Melampaui Kebutuhan Keuangan Anda Wujudkan Impian Anda.

8. Amerika merupakan pusat penciptaan dan gagasan yang besar

Perusahaan S&P 500 memimpin dunia, entah Anda suka atau tidak. Produk mereka menciptakan tren global, menyelamatkan nyawa jutaan orang, menghibur ratusan juta orang dan mendunia saat ini. IPhone, Facebook, Windows, Vaksin, Obat, Airplanes, Senjata, Microchip, Serat optik dan begitu banyak yang lainnya dibuat dan dipasarkan semuanya oleh salah satu atau beberapa perusahaan S&P 500 atau anak perusahaannya. Anda pikir apa lagi penyebab mereka bisa mendapatkan keuntungan 9,8% per tahun selama setengah abad terakhir ini!

9. Faktor Dolar AS

Jangan sekali-kali menyimpan semua telur Anda dalam satu keranjang. Jangan sekali-kali menyimpan uang Anda dalam satu jenis mata uang. Investor di seluruh dunia selalu disarankan untuk mempertahankan sekitar 20-30% aset mereka dalam dolar AS karena USD masih merupakan mata uang no. 1 di dunia saat ini. Ini akan menjadi asuransi terhadap depresiasi & devaluasi mata uang lokal. Bagaimana cara Individu yang memiliki Kekayaan Bersih Tinggi dan Lembaga Keuangan mempertahankan portofolio USD mereka? Mereka membeli Surat Utang Jangka Pendek AS, Obligasi dan saham perusahaan S&P 500.

Kesimpulan:

Orang terkaya di dunia melakukan investasi dan memiliki saham di perusahaan S&P500. Carl Icahn, Bill Gates, Jeff Bezos dan Warren Buffet, sebagai contoh kecilnya. Bank, reksa dana dan lembaga keuangan di seluruh dunia memiliki saham S&P 500 sendiri di Amerika. TIDAK ada alasan apa pun yang mengatakan bahwa siapa pun dari kita tidak boleh melakukan hal yang sama. Investasi di perusahaan terbesar Amerika adalah merupakan strategi investasi yang TEPAT bagi semua orang!***red/rfm

Sumber : https://financial.org

Mengapa Broker lebih memilih Pasar Saham AS dari pada Index Lokal, Check it out !

JAKARTA - Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, perubahan terjadi di berbagai lini kehidupan, termasuk dalam sektor keuangan. Jika sebelumnya masyarakat hanya tahu skema investasi konvensional seperti deposito, reksa dana, saham, emas, atau menaruh uang di bawah bantal, kini variasi investasi jadi lebih beragam
Salah satu yang menjadi perhatian saat ini adalah teknologi finansial (financial technology/ fintech)Kemunculan perusahaan teknologi finansial menjadi tolok ukur metamorfosis ekosistem keuangan dunia.
Tak heran, beragam investasi alternatif pun muncul. Dari berbagai jenis yang hadir, skema investasi alternatif yang paling ramai dibicarakan adalah skema peer to peer lending (P2P)
Menjadi investor dalam skema P2P ini tampaknya merupakan pilihan alternatif yang bijaksana, di tengah minimnya bunga deposito yang ditawarkan perbankan. Perencana keuangan OneShildt Budi Raharjo mengatakan tren masa depan adalah transaksi digital melalui berbagai sarana baik situs internet ataupun aplikasi digital, terutama untuk generasi milenial.
“Bisa jadi fintech lending menjadi favorit karena mudah dipahami, memberikan potensi keuntungan yang menarik serta investasi awal yang tidak terlalu besar,” kata Budi.
Untuk investor besar, lanjut Budi, perlu mengatur strategi supaya dana yang dimiliki lebih tersebar risikonya. Misalnya, dengan memecah dana tersebut tidak hanya untuk satu peminjam, tetapi kepada beberapa peminjam.
Selain itu, biasanya pihak P2P lending sudah membuat mekanisme untuk memberikan peringkat kredit kepada pihak yang akan meminjam. Analisis risiko yang dapat dilakukan seperti mengenali karakter peminjam, kapasitas keuangan, ada atau tidaknya jaminan, besar modal dasar dari peminjam untuk membeli aset yang akan dikredit.
“Kondisi bisnis atau usaha tempat peminjam bekerja dikaitkan dengan kondisi ekonomi saat ini. Analisis ini perlu paling tidak untuk dipelajari oleh investor agar dapat mempertajam intuisi dan dapat mengetahui secara persis tingkat risikonya,” paparnya.
Lebih lanjut ada beberapa risiko yang perlu diwaspadai seperti keamanan rekening yang rentan diserang peretas, risiko gagal bayar, risiko penipuan karena investor tidak dapat langsung mengetahui dengan pasti bagaimana atau seperti apa pihak peminjam, risiko likuiditas karena dalam fintech lending dana akan dikembalikan mengikuti pembayaran angsuran dari peminjam.
“Sehingga apabila investor membutuhkan dana segera dan mendadak, hal ini tentunya tidak bisa dilakukan,” tambahnya.
Jonathan Bryan, Head of Marketing PT Lunaria Annua Teknologi atau Koinworks, mengatakan dilihat dari keseluruhan portofolio, berinvestasi di P2P akan semakin aman. Investor dapat melakukan mitigasi risiko sendiri menyesuaikan imbal hasil yang diinginkan.
Menurutnya, berinvestasi melalui peer to peer lending memiliki fleksibilitas dan transparansi yang tinggi. “Kalau investasi [lain] itu terkadang imbal hasil yang didapatkan ujung-ujungnya tidak sesuai dengan yang diharapkan atau yang dijanjikan sejak awal. Jadi di P2P imbal hasil dan risiko bisa diatur sendiri,” ujar Bryan.
Selain itu, investor dapat mengakses para peminjam, sehingga dapat memilih peminjam yang masuk dalam kualifikasi. Apabila terjadi gagal bayar, terdapat dana proteksi yang dapat meng-cover, sehingga imbal hasil yang didapat tetap sesuai. “Intinya pada end goal akan tetap untung,” katanya.
Berdasarkan survei yang dilakukan PT Mitrausaha Indonesia Grup atau Modalku menunjukkan hampir 70% dari pemberi pinjaman/investor yang aktif, mereka adalah generasi milenial.
“Hal ini menunjukan daya tarik tekfin [teknologi finansial] bagi generasi muda,” kata Alexander Christian, Digital Marketing Director Modalku.
Guna meningkatkan kepercayaan para investor, lanjutnya, pendanaan Modalku juga mudah disesuaikan dengan preferensi investasi masing-masing. Modalku juga memiliki credit scoring grade untuk memberikan penilaian terhadap pinjaman UMKM berdasarkan tingkat risikonya.
Dengan begitu, investor dapat memilih peminjam sesuai toleransi risiko dengan tingkat pengembalian rata-rata sebesar 10-14% per tahun. Bahkan, ada juga ada juga yang mendapatkan pengembalian hingga 24% dalam satu tahun.
“Kami menganjurkan agar pemberi pinjaman membangun portofolio yang terdiversifikasi agar risiko lebih terkontrol,” jelasnya.
Tak kalah penting, Budi melanjutkan, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan saat berinvestasi melalui fintech lending, mulai dari soal perizinan dan legalitas. Hal ini penting terkait dengan, pertama, apakah tekfin tersebut sudah mendapatkan persetujuan dari lembaga Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Kedua, mempelajari dan melihat detail informasi mengenai perusahaan yang bersangkutan selayaknya bisnis konvensional, mulai dari domisili, nomor yang dapat dihubungi dan lain sebagainya.
Ketiga, coba diuji juga standar pelayanannya. Misalnya kemampuan customer servicedalam melayani keluhan dan pertanyaan awam pelanggan juga perlu diuji. Jangan sampai pihak representatif dari perusahaan itu sendiri pun tidak menguasai produk yang ditawarkannya.
Keempat, pemahaman dari investor sendiri. Ingat, bahwa selain menawarkan imbal hasil, investasi juga mengandung risiko. Selayaknya meminjamkan uang, tentu ada risiko, yang paling sederhana seperti keterlambatan, bahkan yang terburuk adalah risiko gagal bayar. Untuk itu perusahaan  yang menyediakan sarana edukasi investor layak juga dipertimbangkan.***rfm
Sumber : http://finansial.bisnis.com

Mau Jadi Investor di Fintech Lending? Begini Strateginya Biar Aman

DHI, JAKARTA – Pergerakan indeks Bisnis27 menguat lebih dari 2% pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Jumat (11/5/2018), ditopang penguatan 23 saham.
Indeks Bisnis27 rebound menguat 2,42% atau 12,48 poin ke posisi 528,91 di jeda siang setelah bergerak pada level 518,83-529,85.
Pergerakan indeks pagi tadi dibuka di zona hijau dengan kenaikan 0,51% atau 2,63 poin di posisi 519,06, setelah pada perdagangan Rabu (9/5) mampu rebound dan berakhir menguat 3,40% atau 17 poin di level 516,43.
Dari 27 saham anggota indeks Bisnis27, sebanyak 23 saham menguat dan 4 saham melemah pada akhir sesi I perdagangan hari ini.
Harga saham PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) yang melejit 8,06% menjadi pendorong utama terhadap pergerakan indeks Bisnis27 di akhir sesi I, diikuti saham PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) yang naik 2,79%.
Indeks Bisnis 27 merupakan indeks yang terdiri dari 27 saham perusahaan tercatat yang dipilih berdasarkan kriteria fundamental, teknikal atau likuiditas transaksi dan akuntabilitas dan tata kelola perusahaan.
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat hampir 2% pada akhir sesi I perdagangan hari ini.
IHSG menguat 1,84% atau 108,66 poin ke level 6.016,60 pada akhir sesi I, setelah dibuka dengan kenaikan 0,26% atau 15,15 poin di level 5.923,09. Adapun pada perdagangan Rabu (9/5), IHSG berhasil rebound dan berakhir menguat 2,31% atau 133,22 poin di level 5.907,94.
Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada level 5.921,19 – 6.023,04. Sebanyak 268 saham menguat, 96 saham melemah, dan 215 saham stagnan dari 579 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Tujuh dari sembilan indeks sektoral IHSG menetap di zona hijau dengan support utama sektor industri dasar (+2,96%) dan tambang (+2,71%). Adapun indeks pertanian dan infrastruktur masing-masing turun 1,03% dan 0,11%.
Sumber : Bisnis.com

Indeks Bisnis27 Menguat Lebih dari 2% Pada Akhir Sesi I

DHI, Jakarta - Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil berlanjut hingga akhir perdagangan hari kedua berturut-turut, Jumat (11/5/2018).
IHSG ditutup menguat 0,83% atau 48,89 poin di level 5.956,83, setelah dibuka dengan kenaikan 0,26% atau 15,15 poin di level 5.923,09. Indeks bahkan sempat kembali menembus level 6.000 hari ini.
Adapun pada perdagangan Rabu (9/5), sebelum libur Kenaikan Isa Al Masih, IHSG berhasil rebound dan berakhir menguat 2,31% atau 133,22 poin di level 5.907,94.
Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada level 5.921,19 – 6.023,04. Dari 579 saham yang diperdagangkan hari ini, sebanyak 251 saham menguat, 127 saham melemah, dan 201 saham stagnan.
Berdasarkan data Bloomberg, enam dari sembilan indeks sektoral IHSG berakhir di zona hijau, dipimpin sektor industri dasar (+2,56%) dan perdagangan (+2,33%). Adapun sektor pertanian yang melorot 1,19% memimpin koreksi di antara tiga sektor lainnya.
Saham PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) dan PT United Tractors Tbk. (UNTR) yang masing-masing menguat 3,61% dan 6,95% menjadi pendorong utama terhadap penguatan IHSG hari ini.
Menurut tim riset Samuel Sekuritas, IHSG menguat setelah Bank Indonesia (BI) memberikan sinyal menaikkan suku bunga untuk meredam pelemahan rupiah.
Seperti diketahui, BI akhirnya mengakui nilai tukar rupiah dalam beberapa pekan terakhir sudah tidak lagi sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus D.W. Martowardojo mengungkapkan BI akan secara tegas dan konsisten mengarahkan dan memprioritaskan kebijakan moneter pada terciptanya stabilitas. 
Hal ini melihat masih besarnya potensi tantangan dari kondisi global yang dapat berpotensi menganggu kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah panjang.
"Dengan mempertimbangkan hal tersebut, BI memiliki ruang yang cukup besar untuk menyesuaikan suku bunga kebijakan [7 Days Reverse Repo]," katanya dalam pernyataan resmi, Jumat (11/5/2018).
Sementara itu, data inflasi AS yang tercatat lebih rendah dari estimasi meredam potensi kenaikan suku bunga the Fed lebih tinggi dari perkiraan.
Dipaparkan oleh tim riset Samuel Sekuritas, bursa AS ditutup menguat menyusul rilis data inflasi AS yang tercatat lebih rendah dari perkiraan (aktual April: 0,2% vs konsensus: 0,3%). Ini memberikan sinyal bahwa The Fed tidak akan agresif dalam menaikkan suku bunganya.
“Pasar optimistis The Fed akan menaikkan suku bunga pada bulan Juni. Namun dengan tingkat inflasi yang masih rendah, kenaikan suku bunga dipercaya tidak akan lebih tinggi dari perkiraan,” jelasnya dalam riset hari ini.
Pergerakan nilai tukar rupiah hari ini rebound tajam dan ditutup menguat 124 poin atau 0,88% di level Rp13.960 per dolar AS, setelah berakhir menembus level 14.000 tiga hari perdagangan berturut-turut sebelumnya.
Sejalan dengan IHSG, indeks Bisnis-27 melanjutkan penguatannya pada perdagangan hari kedua dan berakhir menguat 0,77% atau 3,98 poin di level 520,41, setelah dibuka dengan kenaikan 0,51% atau 2,63 poin di posisi 519,06.
Indeks saham lainnya di Asia Tenggara terpantau juga menguat dengan indeks PSEi Filipina (+2,39%), indeks FTSE Straits Time Singapura (+0,99%), dan indeks SE Thailand yang naik 0,65% pada pukul 15.58 WIB.
Di kawasan Asia lainnya, indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing berakhir menguat 0,98% dan 1,16%. Indeks Kospi Korea Selatan naik 0,55% dan indeks Hang Seng Hong Kong ditutup menguat 1,02%.
Sumber : Bisnis.com

IHSG Sukses Pertahankan Penguatan Jelang Akhir Pekan